Selasa, 19 Desember 2017

Refleksi dari Komunitas UPT Rehabilitasi Sosial Bina Netra: Komunikasi itu Penting

Selama menjalani kelas Pancasila ini, saya mendapatkan kesempatan untuk berproses dengan salah satu komunitas yang bernama UPT Rehabilitasi Sosial Bina Netra. Komunitas saya ini kebetulan merupakan sebuah lembaga yang berada di bawah naungan Dinas Sosial Propinsi Jawa Timur. Sesuai dengan namanya, komunitas ini berperan untuk membina penderita tuna netra menjadi manusia yang lebih mandiri.
            Dari komunitas ini saya banyak belajar bagaimana berkomunikasi dengan orang lain. Berkaitan dengan komunikasi, relasi kami dengan komunitas ini berawal tanpa adanya campur tangan pihak Universitas sehingga di awal sedikit ada miskomunikasi. Kunjungan pertama kami dimulai beberapa hari setelah komunitas ditentukan dan disini saya tekankan bahwa dimana pembagian komunitas diberikan tidak ada pemberitahuan untuk tidak menyampaikan bahwa kami datang untuk belajar pengamalan Pancasila di komunitas tersebut. Sesampainya di komunitas, kami yang tidak tahu ini langsung menyampaikan secara garis besar kegiatan kami berproses di tempat tersebut untuk belajar pengamalan Pancasila. Pihak komunitas di kunjungan pertama kami menyambut kami dengan hangat dan mempersilahkan kami untuk berproses di situ, bahkan memberikan kami opsi pilihan komunitas lain yang menurut beliau lebih tepat agar yang diamati lebih mendalam. Masalah baru muncul ketika di kunjungan kedua kami (kebetulan dosen pembimbing kelas juga ikut), kami tidak dihiraukan sama sekali oleh orang yang sama di kunjungan pertama dan bahkan kami dibiarkan menunggu beliau berbicara dengan orang lain yang menurut saya pembicaraan tersebut tidak penting dibicarakan. Kemudian untungnya ada orang lain yang mampu berbicara dengan lebih sopan dan mempersilahkan kami untuk berproses lebih lanjut. Namun, karena sikap orang pertama itu menimbulkan kesan yang kurang baik sehingga kelompok kami disarankan untuk berganti komunitas dan kelompok kami pun sempat ‘disalahkan’ karena menyampaikan tujuan dengan benar (menyampaikan tujuan kami untuk belajar proses pengamalan Pancasila di komunitas tersebut).
            Setelah berdiskusi dengan kelompok, akhirnya kami memutuskan untuk tetap bertahan dengan komunitas ini. Kami merasa beruntung karena dari pihak komunitas masih ada orang baik yang mau membantu kami mengerjakan tugas Pancasila kami. Beliau juga mempersilahkan kami untuk mengenal semua proses belajar mengajar di RSBN ini, termasuk juga cara berkomunikasi dengan para siswa. Siswa yang diterima di RSBN ini semuanya merupakan penderita tuna netra baik buta total maupun low vision (masih bisa melihat dalam jarak beberapa meter saja). Sebelum kami bertemu langsung dengan siswa, kami sudah diberitahukan bahwa harus menjaga perkataan agar tidak menyinggung perasaan siswa. Penderita tuna netra ini sangat mudah sekali tersinggung karena sebagian besar merasa rendah diri dengan keadaannya. Menjadi pengajar di RSBN ini selain mengajarkan ilmu pengetahuan juga harus mampu memberikan semangat yang mendorong para siswa merasa percaya diri dengan kemampuan mereka. Saat kami berbincang-bincang dengan siswa, ada beberapa siswa yang berkata “mau gimana lagi, buta gini bisanya ya cuma mijet”. Dari perkataan siswa tersebut menyadarkan saya bahwa mendorong penderita tuna netra untuk menjadi lebih percaya diri merupakan hal yang penting dan tidak mudah.

            Kedua hal di atas merupakan kejadian yang paling membekas untuk saya selama berproses di RSBN. Sebagai refleksi saya, dari kejadian tersebut komunikasi yang baik merupakan hal yang sangat penting untuk kehidupan sekarang ini. Orang akan jauh merasa dihargai dengan adanya komunikasi yang baik dari antara kedua belah pihak. Berkomunikasi yang menurut kita sudah baik dan sopan pun kadang orang lain baper (bawa perasaan) sehingga menimbulkan kesan yang buruk. Oleh karena itu, dari sini saya belajar untuk berusaha selalu menjaga tutur kata agar komunikasi dengan orang lain, siapa pun itu, dapat berjalan dengan baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel Demokrasi

  Demokrasi di Indonesia yang Diterapkan di SDK Indriyasana Sukun oleh : Arum Ardanareswari (611610002) Dimas Ade Setyawan (611610005...