Sabtu, 16 Desember 2017

SDN KARANGBESUKI 1, MALANG



SDN KARANGBESUKI 1, MALANG

Kunjungan pertama pada tanggal 7 oktober 2017
Pada kunjungan awal di SDN Karang Besuki 1 kelompok kami membahas dengan Bpk. Musleh selaku Kepala Sekolah SDN Karang Besuki 1 terkait dengan kunjungan yang akan kami lakukan selama di sekolah SDN Karang Besuki 1. Kami membahas tentang tujuan kami datang ke SDN Karang Besuki, dan kegiatan yang kami lakukan selama kunjungan. Dalam pembahasan tersebut kami memberitahu bahwa tema kunjungan kita adalah mengenai Pancasila. Dalam penerapannya dalam lingkungan sekolah pancasila dapat dijadikan sebagai pedoman dan nilai-nilai dasar dalam kehidupan nyata. Seperti contohnya, dalam kegiatan di sekolah ini dilakukan pembiasaan diri untuk menerapkan rasa berbangsa dan bernegara. Pada hari senin dilakukan Upacara bendera misalnya dilanjutkan dengan menyanyikan lagu-lagu nasional dan daerah. Dari contoh tersebut kita dapat mengetahui bahwa penerapan kehidupan berbangsa dan bernegara sudah dilakukan.
 
Kunjungan pertama bersama Kepala SDN Karangbesui 1 dan beberapa guru

Kunjungan kedua pada tanggal 14 Oktober 2017
Pada kunjungan kedua, tanggal 14 Oktober 2017 di SDN Karang Besuki 1 kami melakukan pembicaraan terkait Pancasila dengan salah satu guru kelas 6 SD yang ada di SDN Karang Besuki 1. Tema pada kunjungan kedua ini adalah sila pertama yang ada di Pancasila yaitu, “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Dalam pembicaraan, kami mendapatkan banyak informasi mengenai kegiatan-kegiatan di sekolah SDN Karang Besuki 1 dan juga kegiatan akademik maupun akademik yang diterima oleh siswa-siswi SDN Karang Besuki 1. Dalam contoh nyatanya di kehidupan sekolah, banyak sekali terdapat keanekaragaman agama, dimana mayoritas dalam sekolah tersebut beragama islam dan beberapa beragama nasrani. Namun tidak menutup kemungkinan jika yang bergama narsrani diwajibkan untuk mengikuti tata cara beribadah agama islam misalnya ketika sholat yang dilaksanakan beragama islam dan yang beragama nasrani diberikan kebebasan untuk menjalankan ibadah mereka sendiri. Dari hal tersebut kita mempelajari bagaimana hidup saling bertoleransi antar umat beragama.
 
Kegiatan keagamaan Hari Raya Idul Fitri
Kunjungan kedua bersama perwakilan guru dengan Bapak Krisno Handoko, S.Pd
Kunjungan ketiga pada tanggal 4 November 2017
Pada kunjungan ketiga pada tanggal 4 November 2017 di SDN Karang Besuki 1 kami berbincang-bincang terkait dengan sila Pancasila yang kedua yaitu “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” dengan salah satu guru di SDN Karang Besuki 1. Dalam perbincangan antara kami dengan guru SDN Karang Besuki 1, kami mendapatkan sebuah informasi mengenai siswa-siswi SDN Karang Besuki, mulai dari kegiatan pada saat jam belajar, jam istirahat, dan pada saat melakukan kegiatan tertentu. Setelah melakukan perbincangan, kami diajak untuk masuk ke ruang kelas 5 untuk melihat sistem pembelajaran, dan kebetulan juga mereka sedang melakukan kegiatan ujian. Dalam penerapannya dalam kehidupan sekolah terdapat nilai-nilai sila kedua yang diterapkan seperti persamaan hak dan kewajiban antar murid, guru, dan sesama manusia. Seperti saling menghormati terhadap yang lebih tua, misalnya ketika memulai pelajaran sebelum masuk kelas harus dilakukan salaman dan cium tangan kepada guru, dan masih banyak lagi lainnya. 

Kegiatan cium tangan sebelum memasuki kelas
Kunjungan ketiga bersama beberapa para siswa
Kunjungan keempat pada tanggal 11 November 2017
Pada kunjungan keempat pada tanggal 11 November 2017 di SDN Karang Besuki 1 kami juga melakukan hal yang sama dengan kunjungan sebelumnya, kami berbincang-bincang dengan salah satu staff di SDN Karang Besuki terkait dengan 3 sila sekaligus yaitu “Persatuan Indonesia”, “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan”, “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Dalam perbincangan dengan staff SDN Karang Besuki 1 ini kami mendapatkan informasi yang sangat berguna bagi kami. Kami jadi lebih mengerti kegiatan sehari-hari yang dilakukan siswa-siswi SDN Karang Besuki 1, kami jadi tahu mengenai kegiatan yang dilaksanakan oleh sekolah setiap tahunnya terkait dengan ketiga sila tersebut. Penerapan dalan sila ketiga dapat dilihat ketika pada tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan maka para siswa diwajibkan untuk mengikuti kegiatan ziarah ke makam Pahlawan. Hal tersebut ditujukan untuk menananmkan rasa persatuan dan kecintaan terhadap bangsa Indonesia. Sedangkan penerapan dalam sila keempat yaitu dalam melakukan kegiatan seperti pemilihan ketua kelas selalu dilakukan pengambilan keputusan secara mufakat. Selain itu, penerapan dalam sila kelima yaitu dilakukannya kerja bakti setiap hari jumat, hal itu dilakukan sebagai bentuk gotong-royong yang dilakukan para siswa dalam menanamkan jiwa kebersamaan dan rasa kekeluargaan. Selain itu juga adanya kegiatan kunjungan ke panti asuhan, kegiatan bakti sosial terhadap bencana alam untuk membantu sesama yang masih membutuhkan bantuan. 

Kegiatan ziarah ke makam Pahlawan
Kegiatan kerja bakti
Kunjungan terakhir bersama para siswa
Refleksi
Menurut Benedictus Karel  Adhie Sugirasetya (611610004)
Pancasila sebagai simbol atau lambang negara yang patut dijunjung tinggi oleh setiap masyarakat Indonesia. Pancasila juga sebagai dasar negara yang didalamnya terdapat sila-sila kehidupan bermasyarakat yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Dalam pancasila terdapat 5 sila yaitu: “Ketuhanan yang Maha Esa”, “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”, “Persatuan indonesia”, “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan”, “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Melalui sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa” masyarakat diajak untuk bersatu padu melalui kepercayaannya akan adanya Tuhan. Melalui agama dan kepercayaan setiap orang yang berbeda-beda, masyarakat diajak untuk selalu bersatu tidak membeda-bedakan suku, agama, maupun budaya. Melalui sila kedua “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” menghendaki warga Negara untuk menghormati kedudukan setiap manusia dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, setiap manusia berhak mempunyai kehidupan yang layak dan bertindak jujur serta menggunakan norma sopan santun dalam pergaulan sesama manusia. Melalui sila ketiga “Persatuan Indonesia” kita diajak untuk bersatu padu sebangsa, setanah air. Tidak membeda-bedakan antara suku, ras, dan budaya. Indonesia memang memiliki beragam suku dan ras, namun dengan banyaknya keanekaragaman itu kita wajib menjunjung tinggi tali persaudaraan agar tidak terpecah belah, sehingga tercipta masyarakat yang aman dan tidak ada kericuhan. Melalui sila keempat “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan” kita sebagai bangsa Indonesia harus mengerti dan paham arti demokrasi, setiap masalah harus diselesaikan dengan musyawarah mufakat, tidak serta merta diputuskan oleh satu pihak saja. Setiap berdiskusi antar kelompok hendaklah kita bersuara jika itu memang tidak cocok dengan kita, namun kita juga harus belajar mendengarkan masukkan seorang agar kita juga dihargai. Dalam sila kelima terkandung makna atau tujuan dalam hidup bersama (kehidupan sosial). Keadilan tersebut didasari dan dijiwai oleh hakikat keadilan manusia, yaitu keadilan dalam hubungan kita dengan diri sendiri, kita dengan orang lain, kita dengan masyarakat, kita dengan bangsa dan negara, serta hubungan kita dengan Tuhan. Dalam sila kelima ini juga mengajarkan kita mengenai hak dan kewajiban yang harus kita terima sehingga kita tidak salah menggunakan kekuasaan yang kita miliki. Kita dituntut juga untuk adil bagi sesama. Banyak orang-orang diluar sana yang memanfaatkan kekuasaannya dengan baik ada juga yang tidak baik, memanfaatkan kekuasaannya untuk kepentingan diri sendiri, tidak peduli dengan orang-orang disekitarnya adalah cermin yang buruk bagi kita sebagai generasi penerus bangsa. Sila kelima dapat dicerminkan lewat lingkungan disekitar kita seperti mengikuti acara gotong royong, membayar pajak, menjalin hubungan dengan massyarakat sekitar, dll.  Dalam kehidupan kita sendiri pun juga dapat diaplikasikan seperti bekerja keras demi mendapatkan apa yang kita inginkan dengan tidak memotongnya agar bisa lebih cepat, lalu menjaga hak dan kewajiban yang kita miliki, menghargai hasil karya orang lain. Dalam hal itu kehidupan berkeadilan sosial akan tercapai.

Menurut Dimas Ade Setyawan (611610005)
Menurut saya, setelah  mengikuti kunjungan ke komunitas kami yaitu di SDN Karangbesuki 1 saya dapat memperoleh banyak sekali pengalaman yang sangat berharga dan dapat belajar lagi mengenai pemahaman tentang Pancasila. Sebelumnya saya hanya mengetahui arti pancasila hanya dari bacaannya yang biasanya saya dengar ketika mengikuti Upacara Bendera di sekolah tanpa mengetahui makna-makna dibalik Pancasila tersebut serta nilai-nilai apa saja yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata. Maka dari itu saya tertarik untuk menggali lebih jauh tentangnya, setelah itu ketika saya terjun ke komunitas secara langsung ternyata banyak hal-hal sederhana yang saya dapat terapkan sebagai pengamalan nilai-nilai dalam Pancasila. Sebagai salah satu contohnya dalam sila pertama, kita sebagai umat beragama diberikan hak dan kewajiban kepada masing-masing pemeluk untuk melaksanakan ibadahnya tanpa adanya paksaan dari pihak manapun, pada sila kedua kita sebagai manusia diciptakan untuk saling melengkapi baik itu kelebihan maupun kekurangan masing-masing individu, baik itu laki-laki maupun perempuan sudah diberikan tugas dan tanggungjawabnya masing-masing, sehingga yang perlu kita lakukan adalah bagaimana kita dapat menjaga dan melaksanakan tugas tersebut dengan penuh rasa tanggungjawab, pada sila ketiga kita selalu mempelajari sejarah berdirinya bangsa Indonesia melalui para pahlawan yang rela berkorban demi bangsanya. Oleh karena itu sebagai bentuk kecintaan terhadap bangsanya maka ditetapkannya hari Pahlawan pada 10 November. Sehingga hal tersebut kita lakukan adalah sebagai tanda bentuk kecintaan kita terhadap bangsa, selain itu juga bangsa Indonesia yang kaya akan suku dan budaya dapat disatukan lewat para pemuda-pemudi melalui hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober, dimana setiap perbedaan dapat disatukan melalui rasa kesatuan terhadap bangsa. Pada sila keempat setiap mengambil keputusan harus dilakukan demi kepentingan bersama tanpa didahului kepentingan individu sehingga diharapkan keputusan yang diambil tersebut dapat dicapai demi kebaikan bersama, pada sila kelima kita dijarkan untuk hidup bersosial terhadap sesama, karena manusia adalah makhluk sosial dimana kita saling membutuhkan, ketika terdapat teman yang sedang kesusahan dan membutuhkan bantuan itulah saat dimana kita dibutuhkan, dan sebaliknya. Untuk itu sikap toleransi terhadap sesama perlu dijunjung tinggi agar rasa keadilan terhadap sesama dapat dilakukan dengan baik. Dari beberapa contoh penerapan nilai-nilai pancasila tersebut, tentu saja tidak hanya diterapkan pada generasi pada saat masa lalu tetapi dapat diterapkan pada generasi di masa yang akan datang sehingga pada masa yang akan datang semua masyarakat dapat mengerti dan memahami dari penerapan sila pancasila meskipun itu dimulai dari hal kecil sampai hal besar. Karena melihat kondisi bangsa yang sekarang ini masih tergolong memprihatinkan, maka kita sebagai generasi perubahan harus dilakukan penanaman sila pancasila sejak dini, kalau bukan dari kita siapa lagi?
Menurut Melyani (611610022)
Dari hasil kunjungan yag dilakukan di SDN Karang Besuki 1 yang dapat saya petik adalah pancasila dapat membantu kita mengenali konsep diri, dengan mengenali konsep diri kita mampu mengembangkan kemampuan yang ada pada diri. Jika kita telah mengenali konsep diri, maka akan tercapai aktualisasi diri yang kita tujukan.
Saya sendiri mendapat pengajaran tentang pancasila sejak di sekolah dasar. Jika dipikir ulang, di setiap jenjang pendidikan yang saya masuki hampir selalu ada pengajaran tentang pancasila. Pancasila merupakan identitas jati diri bangsa, itu hal yang saya dapat jika saya mendapat pengajaran pancasila. Identitas tersebut yang menjadikan bangsa kita berbeda dengan bangsa lainnya. Pancasila sebagai identitas bangsa berarti segala perilaku kita berasal dari nilai-nilai yang ada pada pancasila. Untuk memahami nilai-nilai dalam pancasila, kita harus mengenal terlebih dahulu sila-sila yang ada. Menurut ibu Riris, kebanyakan dari masyarakat Indonesia sekarang sudah banyak yang tidak hafal sila-sila dalam pancasila, baik itu nama silanya sendiri ataupun salah dalam menyebutkan urutannya. Sungguh miris saya mendengar hal tersebut. Saat mendapat pengajaran pancasila, saya selalu merasa ditanya seberapa besarkah rasa nasionalisme yang saya miliki. Rasa nasionalisme yang kuat dapat menghadirkan persatuan dan kesatuan di antara kita. Sebagai bangsa yang multietnis, rasa persatuan dan kesatuan merupakan fokus penting dalam perjalanan bangsa ini. Pancasila ini yang berusaha menyatukan segala perbedaan yang hadir pada masyarakat kita melalui nilai-nilai ke-Indonesiaannya.
Sesuai dengan judul dari kuliah umum ini, perbedaan yang ada pada kita seharusnya bukan penghalang untuk hidup bersama. Rasa toleran dan saling menghargai merupakan kunci untuk hal tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari, saya melihat perbedaan yang ada bukanlah sebagai suatu permasalahan, akan tetapi hal itu merupakan warna-warni dalam kehidupan. Suatu hal yang tidak mungkin jika kita hidup segalanya dalam persamaan karena setiap individu itu unik dan memiliki ciri khasnya masing-masing. Pada akhirnya setelah mengikuti kuliah umum ini, saya merasa perlu untuk memiliki rasa saling menghargai karena dengan hal itu akan tercipta keharmonisan diantara kita. Saya akan berusaha melakukan hal itu dalam lingkup keluarga terlebih dahulu sebagai lingkungan tekecil. Caranya dengan menghargai pendapat dari setiap anggota, karena pada dasarnya setiap orang memiliki kebebasan dalam berpendapat. Dengan hidup harmonis kita akan menemukan kedamaian dalam kehidupan yang membuat kita semakin mencintai negeri ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel Demokrasi

  Demokrasi di Indonesia yang Diterapkan di SDK Indriyasana Sukun oleh : Arum Ardanareswari (611610002) Dimas Ade Setyawan (611610005...