SDN KARANGBESUKI
1, MALANG
Kunjungan
pertama pada tanggal 7
oktober 2017
Pada kunjungan awal di SDN Karang Besuki 1 kelompok
kami membahas dengan Bpk. Musleh selaku Kepala Sekolah SDN Karang Besuki 1
terkait dengan kunjungan yang akan kami lakukan selama di sekolah SDN Karang
Besuki 1. Kami membahas tentang tujuan kami datang ke SDN Karang Besuki, dan
kegiatan yang kami lakukan selama kunjungan. Dalam pembahasan tersebut kami
memberitahu bahwa tema kunjungan kita adalah mengenai Pancasila. Dalam penerapannya dalam lingkungan sekolah pancasila
dapat dijadikan sebagai pedoman dan nilai-nilai dasar dalam kehidupan nyata.
Seperti contohnya, dalam kegiatan di sekolah ini dilakukan pembiasaan diri
untuk menerapkan rasa berbangsa dan bernegara. Pada hari senin dilakukan
Upacara bendera misalnya dilanjutkan dengan menyanyikan lagu-lagu nasional dan
daerah. Dari contoh tersebut kita dapat mengetahui bahwa penerapan kehidupan
berbangsa dan bernegara sudah dilakukan.
Kunjungan pertama bersama Kepala
SDN Karangbesui 1 dan beberapa guru
Kunjungan
kedua pada tanggal 14 Oktober 2017
Pada kunjungan kedua, tanggal 14 Oktober 2017 di SDN
Karang Besuki 1 kami melakukan pembicaraan terkait Pancasila dengan salah satu
guru kelas 6 SD yang ada di SDN Karang Besuki 1. Tema pada kunjungan kedua ini
adalah sila pertama yang ada di Pancasila yaitu, “Ketuhanan Yang Maha Esa”.
Dalam pembicaraan, kami mendapatkan banyak informasi mengenai kegiatan-kegiatan
di sekolah SDN Karang Besuki 1 dan juga kegiatan akademik maupun akademik yang
diterima oleh siswa-siswi SDN Karang Besuki 1. Dalam contoh nyatanya di kehidupan sekolah, banyak sekali terdapat
keanekaragaman agama, dimana mayoritas dalam sekolah tersebut beragama islam
dan beberapa beragama nasrani. Namun tidak menutup kemungkinan jika yang
bergama narsrani diwajibkan untuk mengikuti tata cara beribadah agama islam
misalnya ketika sholat yang dilaksanakan beragama islam dan yang beragama
nasrani diberikan kebebasan untuk menjalankan ibadah mereka sendiri. Dari hal
tersebut kita mempelajari bagaimana hidup saling bertoleransi antar umat
beragama.
Kunjungan kedua bersama
perwakilan guru dengan Bapak Krisno Handoko, S.Pd
Kunjungan
ketiga pada tanggal 4 November 2017
Pada kunjungan ketiga pada tanggal 4 November 2017 di
SDN Karang Besuki 1 kami berbincang-bincang terkait dengan sila Pancasila yang
kedua yaitu “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” dengan salah satu guru di SDN
Karang Besuki 1. Dalam perbincangan antara kami dengan guru SDN Karang Besuki
1, kami mendapatkan sebuah informasi mengenai siswa-siswi SDN Karang Besuki,
mulai dari kegiatan pada saat jam belajar, jam istirahat, dan pada saat
melakukan kegiatan tertentu. Setelah melakukan perbincangan, kami diajak untuk
masuk ke ruang kelas 5 untuk melihat sistem pembelajaran, dan kebetulan juga
mereka sedang melakukan kegiatan ujian.
Dalam penerapannya dalam kehidupan sekolah terdapat nilai-nilai sila kedua yang
diterapkan seperti persamaan hak dan kewajiban antar murid, guru, dan sesama
manusia. Seperti saling menghormati terhadap yang lebih tua, misalnya ketika
memulai pelajaran sebelum masuk kelas harus dilakukan salaman dan cium tangan
kepada guru, dan masih banyak lagi lainnya.
Kunjungan ketiga bersama beberapa
para siswa
Kunjungan
keempat pada tanggal 11 November 2017
Pada kunjungan keempat pada tanggal 11 November 2017
di SDN Karang Besuki 1 kami juga melakukan hal yang sama dengan kunjungan
sebelumnya, kami berbincang-bincang dengan salah satu staff di SDN Karang
Besuki terkait dengan 3 sila sekaligus yaitu “Persatuan Indonesia”, “Kerakyatan
yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan”,
“Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Dalam perbincangan dengan
staff SDN Karang Besuki 1 ini kami mendapatkan informasi yang sangat berguna
bagi kami. Kami jadi lebih mengerti kegiatan sehari-hari yang dilakukan
siswa-siswi SDN Karang Besuki 1, kami jadi tahu mengenai kegiatan yang
dilaksanakan oleh sekolah setiap tahunnya terkait dengan ketiga sila tersebut.
Penerapan dalan sila ketiga dapat dilihat
ketika pada tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan maka para siswa
diwajibkan untuk mengikuti kegiatan ziarah ke makam Pahlawan. Hal tersebut
ditujukan untuk menananmkan rasa persatuan dan kecintaan terhadap bangsa
Indonesia. Sedangkan penerapan dalam sila keempat yaitu dalam melakukan
kegiatan seperti pemilihan ketua kelas selalu dilakukan pengambilan keputusan
secara mufakat. Selain itu, penerapan dalam sila kelima yaitu dilakukannya
kerja bakti setiap hari jumat, hal itu dilakukan sebagai bentuk gotong-royong
yang dilakukan para siswa dalam menanamkan jiwa kebersamaan dan rasa
kekeluargaan. Selain itu juga adanya kegiatan kunjungan
ke panti asuhan, kegiatan bakti sosial terhadap bencana alam untuk membantu sesama yang masih membutuhkan bantuan.
Kunjungan terakhir bersama para siswa
Refleksi
Menurut Benedictus Karel
Adhie Sugirasetya (611610004)
Pancasila sebagai simbol atau lambang negara yang
patut dijunjung tinggi oleh setiap masyarakat Indonesia. Pancasila juga sebagai
dasar negara yang didalamnya terdapat sila-sila kehidupan bermasyarakat yang
harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Dalam pancasila terdapat 5 sila yaitu:
“Ketuhanan yang Maha Esa”, “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”, “Persatuan
indonesia”, “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan Perwakilan”, “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Melalui
sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa” masyarakat diajak untuk
bersatu padu melalui kepercayaannya akan adanya Tuhan. Melalui agama dan
kepercayaan setiap orang yang berbeda-beda, masyarakat diajak untuk selalu
bersatu tidak membeda-bedakan suku, agama, maupun budaya. Melalui sila kedua “Kemanusiaan yang Adil
dan Beradab” menghendaki warga Negara untuk menghormati kedudukan setiap
manusia dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, setiap manusia berhak
mempunyai kehidupan yang layak dan bertindak jujur serta menggunakan norma
sopan santun dalam pergaulan sesama manusia. Melalui sila ketiga “Persatuan
Indonesia” kita diajak untuk bersatu padu sebangsa, setanah air. Tidak
membeda-bedakan antara suku, ras, dan budaya. Indonesia memang memiliki beragam
suku dan ras, namun dengan banyaknya keanekaragaman itu kita wajib menjunjung
tinggi tali persaudaraan agar tidak terpecah belah, sehingga tercipta
masyarakat yang aman dan tidak ada kericuhan. Melalui sila keempat “Kerakyatan
yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan” kita
sebagai bangsa Indonesia harus mengerti dan paham arti demokrasi, setiap
masalah harus diselesaikan dengan musyawarah mufakat, tidak serta merta
diputuskan oleh satu pihak saja. Setiap berdiskusi antar kelompok hendaklah
kita bersuara jika itu memang tidak cocok dengan kita, namun kita juga harus
belajar mendengarkan masukkan seorang agar kita juga dihargai. Dalam sila
kelima terkandung makna atau tujuan dalam hidup bersama (kehidupan sosial). Keadilan
tersebut didasari dan dijiwai oleh hakikat keadilan manusia, yaitu keadilan
dalam hubungan kita dengan diri sendiri, kita dengan orang lain, kita dengan
masyarakat, kita dengan bangsa dan negara, serta hubungan kita dengan Tuhan.
Dalam sila kelima ini juga mengajarkan kita mengenai hak dan kewajiban yang
harus kita terima sehingga kita tidak salah menggunakan kekuasaan yang kita
miliki. Kita dituntut juga untuk adil bagi sesama. Banyak orang-orang diluar
sana yang memanfaatkan kekuasaannya dengan baik ada juga yang tidak baik,
memanfaatkan kekuasaannya untuk kepentingan diri sendiri, tidak peduli dengan
orang-orang disekitarnya adalah cermin yang buruk bagi kita sebagai generasi
penerus bangsa. Sila kelima dapat dicerminkan lewat lingkungan disekitar kita
seperti mengikuti acara gotong royong, membayar pajak, menjalin hubungan dengan
massyarakat sekitar, dll. Dalam
kehidupan kita sendiri pun juga dapat diaplikasikan seperti bekerja keras demi
mendapatkan apa yang kita inginkan dengan tidak memotongnya agar bisa lebih
cepat, lalu menjaga hak dan kewajiban yang kita miliki, menghargai hasil karya
orang lain. Dalam hal itu kehidupan berkeadilan sosial akan tercapai.
Menurut Dimas Ade Setyawan (611610005)
Menurut saya, setelah
mengikuti kunjungan ke komunitas kami yaitu di SDN Karangbesuki 1 saya
dapat memperoleh banyak sekali pengalaman yang sangat berharga dan dapat
belajar lagi mengenai pemahaman tentang Pancasila. Sebelumnya saya hanya
mengetahui arti pancasila hanya dari bacaannya yang biasanya saya dengar ketika
mengikuti Upacara Bendera di sekolah tanpa mengetahui makna-makna dibalik
Pancasila tersebut serta nilai-nilai apa saja yang dapat diterapkan dalam
kehidupan nyata. Maka dari itu saya tertarik untuk menggali lebih jauh
tentangnya, setelah itu ketika saya terjun ke komunitas secara langsung
ternyata banyak hal-hal sederhana yang saya dapat terapkan sebagai pengamalan
nilai-nilai dalam Pancasila. Sebagai salah satu contohnya dalam sila pertama, kita
sebagai umat beragama diberikan hak dan kewajiban kepada masing-masing pemeluk
untuk melaksanakan ibadahnya tanpa adanya paksaan dari pihak manapun, pada sila
kedua kita sebagai manusia diciptakan untuk saling melengkapi baik itu
kelebihan maupun kekurangan masing-masing individu, baik itu laki-laki maupun
perempuan sudah diberikan tugas dan tanggungjawabnya masing-masing, sehingga
yang perlu kita lakukan adalah bagaimana kita dapat menjaga dan melaksanakan
tugas tersebut dengan penuh rasa tanggungjawab, pada sila ketiga kita selalu
mempelajari sejarah berdirinya bangsa Indonesia melalui para pahlawan yang rela
berkorban demi bangsanya. Oleh karena itu sebagai bentuk kecintaan terhadap
bangsanya maka ditetapkannya hari Pahlawan pada 10 November. Sehingga hal
tersebut kita lakukan adalah sebagai tanda bentuk kecintaan kita terhadap
bangsa, selain itu juga bangsa Indonesia yang kaya akan suku dan budaya dapat
disatukan lewat para pemuda-pemudi melalui hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober,
dimana setiap perbedaan dapat disatukan melalui rasa kesatuan terhadap bangsa.
Pada sila keempat setiap mengambil keputusan harus dilakukan demi kepentingan
bersama tanpa didahului kepentingan individu sehingga diharapkan keputusan yang
diambil tersebut dapat dicapai demi kebaikan bersama, pada sila kelima kita
dijarkan untuk hidup bersosial terhadap sesama, karena manusia adalah makhluk
sosial dimana kita saling membutuhkan, ketika terdapat teman yang sedang
kesusahan dan membutuhkan bantuan itulah saat dimana kita dibutuhkan, dan
sebaliknya. Untuk itu sikap toleransi terhadap sesama perlu dijunjung tinggi
agar rasa keadilan terhadap sesama dapat dilakukan dengan baik. Dari beberapa
contoh penerapan nilai-nilai pancasila tersebut, tentu saja tidak hanya
diterapkan pada generasi pada saat masa lalu tetapi dapat diterapkan pada
generasi di masa yang akan datang sehingga pada masa yang akan datang semua
masyarakat dapat mengerti dan memahami dari penerapan sila pancasila meskipun
itu dimulai dari hal kecil sampai hal besar. Karena melihat kondisi bangsa yang
sekarang ini masih tergolong memprihatinkan, maka kita sebagai generasi
perubahan harus dilakukan penanaman sila pancasila sejak dini, kalau bukan dari
kita siapa lagi?
Menurut Melyani (611610022)
Dari hasil kunjungan yag
dilakukan di SDN Karang Besuki 1 yang dapat saya petik adalah pancasila dapat
membantu kita mengenali konsep diri, dengan mengenali konsep diri kita mampu
mengembangkan kemampuan yang ada pada diri. Jika kita telah mengenali konsep
diri, maka akan tercapai aktualisasi diri yang kita tujukan.
Saya sendiri mendapat
pengajaran tentang pancasila sejak di sekolah dasar. Jika dipikir ulang, di
setiap jenjang pendidikan yang saya masuki hampir selalu ada pengajaran tentang
pancasila. Pancasila merupakan identitas jati diri bangsa, itu hal yang saya
dapat jika saya mendapat pengajaran pancasila. Identitas tersebut yang
menjadikan bangsa kita berbeda dengan bangsa lainnya. Pancasila sebagai
identitas bangsa berarti segala perilaku kita berasal dari nilai-nilai yang ada
pada pancasila. Untuk memahami nilai-nilai dalam pancasila, kita harus
mengenal terlebih dahulu sila-sila yang ada. Menurut ibu Riris, kebanyakan dari
masyarakat Indonesia sekarang sudah banyak yang tidak hafal sila-sila dalam
pancasila, baik itu nama silanya sendiri ataupun salah dalam menyebutkan
urutannya. Sungguh miris saya mendengar hal tersebut. Saat mendapat pengajaran
pancasila, saya selalu merasa ditanya seberapa besarkah rasa nasionalisme yang
saya miliki. Rasa nasionalisme yang kuat dapat menghadirkan persatuan dan
kesatuan di antara kita. Sebagai bangsa yang multietnis, rasa persatuan dan
kesatuan merupakan fokus penting dalam perjalanan bangsa ini. Pancasila ini
yang berusaha menyatukan segala perbedaan yang hadir pada masyarakat kita
melalui nilai-nilai ke-Indonesiaannya.
Sesuai dengan judul dari
kuliah umum ini, perbedaan yang ada pada kita seharusnya bukan penghalang untuk
hidup bersama. Rasa toleran dan saling menghargai merupakan kunci untuk hal
tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari, saya melihat perbedaan yang ada bukanlah
sebagai suatu permasalahan, akan tetapi hal itu merupakan warna-warni dalam
kehidupan. Suatu hal yang tidak mungkin jika kita hidup segalanya dalam
persamaan karena setiap individu itu unik dan memiliki ciri khasnya masing-masing. Pada
akhirnya setelah mengikuti kuliah umum ini, saya merasa perlu untuk memiliki
rasa saling menghargai karena dengan hal itu akan tercipta keharmonisan
diantara kita. Saya akan berusaha melakukan hal itu dalam lingkup keluarga
terlebih dahulu sebagai lingkungan tekecil. Caranya dengan menghargai pendapat
dari setiap anggota, karena pada dasarnya setiap orang memiliki kebebasan dalam
berpendapat. Dengan hidup harmonis kita akan menemukan kedamaian dalam
kehidupan yang membuat kita semakin mencintai negeri ini.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar