PERAN MAHASISWA DALAM PERMASALAHAN SOSIAL
MAKALAH MATA KULIAH
KEWARGANEGARAAN
DEVILKE YANDRIYANI
- 611410013
ELISABETH GRASIA PUTRI - 611410005
NIKEN ADITYA YOLANDA SALY - 611410014
REXSY APRINO SANGGEN - 611410011
YOHAN SUSILO ADI PRASETYO - 611410012
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS MA CHUNG
MALANG
2018
BAB I
PENDAHULUAN
Masyarakat
merupakan ruang lingkup terbesar dalam kumpulan individu-individu manusia
dimana didalamnya terjadi berbagai interaksi antar individu maupun golongan
beserta buah dari interaksi tersebut. Dalam relasi antar individu ini tercipta
sebuah sistem sebagai pedoman hidup manusia dalam mencapai tujuan bersama.
Manusia
diciptakan sebagai makhluk sosial sekaligus individu dimana manusia merupakan
individu tersendiri tapi juga membutuhkan individu lainnya untuk hidup. Dalam
terciptanya interaksi antar individu ini dapat terjadi berbagai macam gesekan
akibat dari perbedaan paham. Untuk meminimalisir gesekan dan menyatukan
berbagai macam paham tersebut diciptakan adanya sistem sosial sebagai bentuk
kesatuan fungsi dari berbagai unsur yang berkembang di masyarakat sehingga tercapai
kehidupan yang sejahtera, adil, dan damai. Proses mempersatukan antar individu
dalam mencapai tujuan hidup yang sejahtera, adil, dan damai ini membuahkan
berbagai macam sistem yang berkembang dalam berbagai aspek. Sistem yang ada
antara lain adalah struktur sosial, budaya, ekonomi, agama dan teknologi.
Mahasiswa
merupakan individu dalam masyarakat dengan tingkat pendidikan tertinggi
sehingga mahasiswa merupakan individu yang diharapkan mampu berperan sebagai
subjek perubahan dalam sebuah sistem kehidupan. Perkembangan pola pikir
masyarakat yang dinamis walaupun dalam sebuah sistem yang sama dan telah
terbentuk sejak lama belum tentu dapat diterima dikemudian hari. Perkembangan
sistem menjadi lebih modern, cepat, dan efisien tanpa meninggalkan norma-norma
yang ada harus selalu dilakukan oleh individu. Hal seperti ini yang seharusnya
digagas oleh mahasiswa sebagai bentuk peran serta mahasiswa dalam kehidupan
bermasyarakat. Mahasiswa sudah sewajarnya dengan tingkat pendidikan yang tinggi
mampu menganalisis masalah yang terjadi di masyarakat kemudian menyelesaikan
permasalahan tersebut.
BAB II
REVIEW DAN KAJIAN PUSTAKA
Mahasiswa adalah individu yang sedang menuntut ilmu ditingkat perguruan
tinggi, baik negeri maupun swasta atau lembaga lain yang setingkat dengan
perguruan tinggi. Berpikir kritis dan bertindak dengan cepat dant tepat
merupakan sifat yang cenderung melekat pada diri setiap mahasiswa (Papilaya
& Huliselan, 2016). Selain itu mahasiswa merupakan kelompok intelektual
muda dalam masyarakat yang menjadi penikmat berbagai fasilitas masyarakat yang
disediakan pemerintah, maka mahasiswa punya tanggung jawab moral karena
fasilitas masyarakat tersebut dibiayai oleh sosial yang notabene adalah uang
rakyat (Istichomaharani & Habibah, 2016).
Menurut Istichomaharani dan Habibah (2016) terdapat 3 (tiga) peran penting
yang menjadi peran mahasiswa, yaitu sebagai Agent
of Change, Social Control, dan Iron Stock. Mahasiswa sebagai Agent of Change harus memperjuangkan
perubahan-perubahan menuju perbaikan di bidang sosial dalam kehidupan
masyarakat. Mahasiswa sebagai Social
Control hendaknya menjadi penengah antara pemerintah dan masyarakat,
sebagai pengontrol peraturan, kebijakan, dan kegiatan pemerintah. Mahasiswa
sebagai Iron Stock diharapkan menjadi
manusia tangguh yang memiliki kemampuan dan akhlak mulia sebagai generasi
penerus bangsa.
Untuk mewujudkan ketiga peran mahasiswa tersebut dibutuhkan mahasiswa yang
melek dan peduli dengan lingkungan, sehingga mereka dapat dengan mudah
menyadari segala permasalahan yang ada di tengah masyarakat (Sushanti, 2012).
Kesadaran terhadap kondisi lingkungan dan permasalahan sosial di masyarakat
menjadi langkah pertama untuk melaksanakan peran mahasiswa. Langkah tersebut
tidak terlepas dari faktor keberhasilan suatu gerakan sosial dan dibutuhkan
orang-orang yang mempunyai jiwa sosial yang baik agar permasalahan sosial dapat
terselesaikan.
Masalah sosial merupakan fenomena yang selalu ada pada setiap masyarakat
dibelahan bumi manapun. Selama masyarakat mengalami proses perubahan, maka
masalah sosial akan terus muncul tanpa bisa dihindari serta sekaligus akan
terus mempengaruhi dimensi kehidupan setiap orang (Taftazani, 2017). Beberapa
contoh masalah sosial yaitu korupsi, kenakalan remaja, disorganisasi keluarga,
pendapatan yang rendah, drug abuse,
kriminalitas, dan kekerasan. Parrilo (2002) merumuskan menjadi 4 (empat) elemen
penting sehingga disebut masalah sosial.
a. Menimbulkan
berbagai kerugian baik secara fisik atau mental, baik individu maupun
masyarakat.
b. Merupakan
pelanggaran terhadap satu atau beberapa nilai dalam masyarakat atau yang
memiliki kekuatan pengaruh di masyarakat.
c. Keadaan
yang terus menerus terjadi.
d. Munculnya
kebutuhan untuk dipecahkan berdasarkan evaluasi dari berbagai kelompok di
masyarakat.
Dalam penanganan permasalahan sosial, yang dapat dilakukan adalah
mengidentifikasi sumber masalah minimal melalui dua pendekatan yaitu personal blame dan environmental blame (Taftazani, 2017). Pendekatan masalah yang
bersumber dari individu (personal blame)
dilakukan saat tingkah lakunya dianggap bertentangan dengan nilai atau standar
sosial yang berlaku dimasyarakat atau bermasalah pada mental yang buruk dan
berpengaruh negatif pada lingkungan. Sedangkan masalah yang bersumber dari
sistem sosial (environmental blame)
terjadi jika lembaga-lembaga dan organisasi tindak berfungsi sebagaimana
mestinya sehingga berpengaruh buruk pada sendi-sendi kehidupan masyarakat.
Dari hasil analisa masalah tersebut dapat diterjemahkan untuk mengetahui
kebutuhan yang belum terpenuhi. Kebutuhan itu menjadi landasan perencanaan atau
strategi pemecahan masalah sosial yang terjadi di lingkungan masyarakat.
BAB III
ANALISIS KRITIS: ASPEK AKTUALITAS
Pada mata kuliah Kewarganegaraan
ini, kelompok diberikan kesempatan untuk berkunjung dan melihat langsung
kegiatan di UPT Rehabilitasi Sosial Bina Netra. Setelah beberapa kali
mengunjungi UPT Rehabilitasi Sosial Bina Netra ini, kelompok mendapatkan ilmu
terkait cara berkomunikasi kepada orang yang ‘berbeda’ secara fisik.
Unit Pelaksana Teknis Rehabilitasi
Sosial Bina Netra (UPT RSBN) merupakan salah satu lembaga yang berada dibawah
naungan Dinas Sosial Propinsi Jawa Timur. Lembaga ini mewadahi orang yang
menderita cacat netra untuk belajar hidup mandiri yaitu dengan melakukan kegiatannya sendiri tanpa
harus memohon bantuan orang lain dan tidak bergantung pada orang lain. Lembaga
ini membina penyandang tuna netra, baik buta total maupun buta sebagian tetapi
tidak menyandang cacat ganda. Siswa
yang diterima pun dari beragam kalangan, tapi
dibatasi usia 15 hingga 35 tahun (usia produktif) dengan kondisi fisik yang masih kuat.Pembelajaran siswa ini berlangsung selama
kurang lebih 3 tahun.
Proses belajar mengajar di UPT RSBN ini berbeda dengan cara mengajar murid normal yang biasa melakukan kegiatan belajar mengajar di kelas. Dengan keterbatasan untuk melihat,
pembelajaran ke siswa lebih cenderung mengajar satu per satu siswa. Penyandang
tuna netra juga diberi wawasan tentang perkembangan teknologi. Telepon seluler
berteknologi layar sentuh saja para siswa di lembaga ini mampu mengoperasikan
dengan bantuan suara. Selain itu juga siswa mampu bepergian ke toko tertentu
untuk reparasi telepon seluler, maupun untuk membeli jam tangan khusus yang dibuat
untuk penyandang tuna netra.
Dari awal kunjungan, pihak UPT RSBN yang melakukan kegiatan sehari-hari dengan orang penyandang tuna netra
bercerita bahwa komunikasi yang dilakukan dengan orang yang menderita cacat
fisik tertentu jauh lebih susah dengan manusia normal pada umumnya. Hal tersebut disebabkan karena penderita cacat fisik khususnya penderita cacat tuna netra cenderung
merasa rendah sehingga
perkataan dan perbuatan saat berkomunikasi dengan mereka harus hati-hati agar
tidak menyinggung perasaan. Setelah melakukan beberapa kali kunjungan,
pernyataan di atas terbukti benar. Hampir setiap kali berkomunikasi dengan siswa UPT RSBN ini muncul pernyataan
dari mereka “gimana lagi buta gini bisa
apa? bisa
mijet udah untung”.
Pernyataan tersebut membuat kelompok
kami tersadar bahwa di
satu sisi mensyukuri tidak adanya cacat fisik di tubuh kami masing-masing.
Namun, dari pernyataan tersebut juga seakan-akan mengingatkan bahwa orang yang
menderita cacat fisik dengan keterbatasan yang ada bisa belajar hingga memiliki
keahlian memijat, terlebih manusia normal yang tidak menderita cacat fisik
tentu harusnya bisa berkarya lebih daripada mereka. Di sisi lain, dengan rasa
empati juga mengingatkan bahwa penderita tuna netra sangat membutuhkan dukungan
moral untuk meningkatkan rasa percaya diri bahwa keterbatasannya bukanlah
sebuah batasan, melainkan mendukungnya untuk melihat keterbatasannya menjadi
sebuah kelebihan.
Dari bincang-bincang informal yang
dilakukan kelompok kepada siswa-siswi UPT RSBN ini, pendidikan yang diperoleh
selama berproses di UPT RSBN ini dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri
dengan mengurangi ketergantungan mereka kepada orang lain. Walaupun secara
teori manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan orang lain, tetapi pada
saat-saat tertentu, manusia juga ingin diakui keberadaannya sebagai orang yang
mampu berkarya, bukan orang yang lemah dan harus dikasihani. Demikian juga
berlaku pada para siswa di UPT RSBN ini, dengan kemampuan mereka untuk mengurus
diri mereka masing-masing, mampu berjalan ke tempat-tempat manapun, mampu
memanfaatkan transportasi umum, dan yang paling penting juga memiliki keahlian
jasa yang dapat dijadikan mata pencaharian ini menjadi modal awal untuk membuat
mereka lebih diakui bukan sebagai orang cacat yang harus dikasihani.
Di UPT RSBN ini sebenarnya terdapat
beberapa keterampilan yang diajarkan untuk dijadikan mata pencaharian bagi
siswa-siswinya. Selain memijat, ada juga keterampilan untuk membuat keset dan
membuat telur asin. Walaupun demikian, jurusan dengan minat paling banyak
adalah jurusan pijat. Setelah lulus dari UPT RSBN ini, para siswa dibekali juga
dengan modal untuk bersaing di dunia kerja. Misalnya untuk siswa-siswi yang
mengambil keterampilan pijat, pada saat lulus akan dibekali matras, handuk,
selimut, dan minyak gosok.
Selain pembekalan pendidikan untuk
membuat penderita tuna netra ini dapat merasa menjadi
rakyat Indonesia yang tidak dibedakan dengan
orang lain dan setara dengan orang-orang normal lainnya, sistem dan proses
pembelajaran yang ada di dalam UPT RSBN ini juga mendukung keadilan bagi
seluruh muridnya. Seluruh siswa-siswi UPT RSBN ini diperlakukan sama, tinggal
di asrama dengan fasilitas lengkap yang dapat diakses oleh semuanya. Keadilan
juga tercermin dari sistem pembelajaran yang man-to-man sehingga semua murid mendapatkan ilmu yang sama hingga
mereka bisa melakukannya, bukan sekedar diberikan kemudian tidak dipedulikan
mereka sudah bisa atau belum.
Walaupun diharuskan untuk bertempat
tinggal di asrama, namun tidak menutup kemungkinan siswa untuk pergi keluar
dari lembaga ini untuk berjalan-jalan. Siswa yang diperbolehkan keluar hanya
siswa yang sudah mampu melakukan orientasi mobilitas dengan benar dan dengan
ijin dari wali wisma tempat siswa tersebut tinggal. Proses belajar mengajar di
lembaga ini berlangsung dari Januari hingga Desember, hanya libur pada saat
hari raya Idul Fitri selama kurang lebih sepuluh hari. Namun, untuk siswa yang
non muslim yang ingin merayakan hari raya masing-masing agama juga diberikan
toleransi ijin.
Mahasiswa
dapat berperan aktif dalam membantu dan meningkatkan mutu hidup orang-orang
penyandang tuna netra ini. Sebagai mahasiswa yang sudah diberikan materi-materi
yang dapat digunakan untuk membantu mengembangkan ketrampilan orang-orang di
komunitas UPT RSBN ini. Salah satu keterampilan yang dapat diberikan dan
diajarkan kepada penyandang tuna netra di UPT RSBN ini dengan membuat minyak
gosok dan keterampilan tangan lainnya yang dapat digunakan untuk mendukung
pekerjaan mereka setelah lulus dari komunitas tersebut. Selain itu, seorang
mahasiswa yang baik juga dapat menerapkan hidup sosial dengan melakukan
memperlakukan mereka sama dengan orang-orang normal lainnya dan tidak
membeda-bedakan sama sekali, serta mau menghargai dan menghormati posisi mereka
sebagai penyandang tuna netra.
BAB IV
REFLEKSI: NILAI
Kewarganegaraan
merupakan sebuah ikatan atau hubungan antara negara dengan warga negara atau masyarakat. Masyarakat
memiliki hak untuk dapat berpartisipasi dalam kegiatan di dalam negara.
Masyarakat merupakan makhluk sosial yang dapat menciptakan suatu relasi antar
individu yang memiliki sistem dan tujuan bersama dalam sebuah negara. Dalam
masyarakat sebuah masalah sosial selalu ada dengan adanya proses perubahan dan
akan mempengaruhi dimensi kehidupan. Mahasiswa memiliki peran dalam masalah
sosial sehingga mahasiswa perlu turun tangan untuk membantu memecahkan
masalah-masalah sosial yang terjadi di masyarakat.
UPT Rehabilitasi Sosial Bina Netra di
kota Malang merupakan
lembaga yang dibentuk oleh Dinas Sosial
Provinsi Jawa Timur dengan tujuan untuk memberikan pendidikan khusus kepada
peserta didik, yaitu penyandang tuna netra. Program dari UPT ini diberikan
sebagai bentuk pembinaan terhadap peserta didik hingga pembina menilai bahwa
peserta didik mampu menjalankan kehidupan secara mandiri.
Di UPT Rehabilitasi Sosial Bina Netra, perserta didik
tinggal di asrama yang tentunya mereka pernah mengalami perbedaan paham
sehingga mengakibatkan munculnya berbagai macam gesekan. Untuk meminimalisir
gesekan tersebut sebagai mahasiswa memiliki peran penting dalam menyatukan
berbagai macam paham dengan diciptakan adanya sistem sosial sebagai bentuk
kesatuan fungsi sehingga tercapainya kehidupan yang sejahtera, adil dan damai.
Peserta
didik cenderung tidak percaya diri dan sensitif karena keterbatasan mereka.
Dengan demikian, sebagai mahasiswa harus memberi dukungan moral untuk
meningkatkan rasa percaya diri bahwa keterbatasan bukanlah sebuah batasan tapi
sebuah kelebihan. Selain itu, mahasiswa harus berperan dalam meningkatkan mutu
hidup peserta didik di UPT Rehabilitasi
Sosial Bina Netra dengan mengembangkan keterampilan dari peserta didik. Meskipun dari UPT Rehabilitasi Sosial Bina Netra peserta didik sudah
dibekali keterampilan yang berbeda-beda sesuai keterampilan masing-masing,
namun sebagai mahasiswa dapat membantu untuk mengembangkan keterampilan peserta
didik dengan memberikan pelatihan membuat minyak gosok dari bahan alami. Dengan
adanya pelatihan pembuatan minyak gosok ini diharapkan nantinya peserta didik
tidak menganggap dirinya berbeda dengan orang lain sehingga memiliki rasa
percaya diri dan dapat bergaul dengan masyarakat selayaknya orang normal.
BAB V
KESIMPULAN
Berdasarkan
penjelasan-penjelasan di bab sebelumnya dapat kami simpulkan bahwa peran
mahasiswa dalam menangani permasalahan sosial sangatlah penting. Terlahirnya
manusia sebagai makhluk sosial diharapkan dapat terjalin kerjasama dalam menangani
permasalahan sosial yang ada sehingga masalah dapat terpecahkan dengan ringan
dan cepat. Dengan adanya mahasiswa yang merupakan individu dengan tingkat
pendidikan yang lebih tinggi dan bermodal pemikiran yang lebih modern ini akan
membuat mahasiswa ini lebih mudah dalam melakukan identifikasi permasalah.
Dimana dalam melakukan identifikasi sosial, mahasiswa juga berperan dalam
memberikan pemecahan dalam menangani masalah sosial yang ada. Dengan adanya
bantuan dari mahasiswa sendiri akan membuat masyarakat lebih mudah dalam
memecahkan permasalahan yang ada. Berhubungan dengan kunjungan yang telah kami
lakukan di UPT RSCN Malang, sebagai mahasiswa kami membantu siswa-siswi yang
ada di pusat rehabilitasi tersebut untuk memberikan pelatihan dalam membuat obat
gosok dengan bahan herbal. Hal ini kami berikan karena pandangan masyarakat
yang kurang mengenal keberadaan masyarakat dengan fisik yang berbeda. Dengan
adanya pelatihan yang kami berikan, diharapkan siswa-siswi lulusan dari UPT
RSCN Malang ini memiliki suatu kelebihan tersendiri sehingga masyarakat tidak
akan memandang masyarakat tuna netra ini “sebelah mata”. Berubahnya cara
pandang masyarakat terhadap tuna netra ini akan membuat masyarakat tuna netra
lebih dikenal kualitasnya oleh masyarakat luas, sehingga adanya masalah sosial
tentang pandangan negatif terhadap masyarakat tuna netra ini dapat dirubah.
Dengan berubahnya cara pandang masyarakat luas terhadap masyarakat tuna netra
ini akan menumbuhkan rasa percaya diri dari masyarakat tuna netra itu sendiri,
hal ini akan memberikan efek positif terhadap masyarakat tuna netra.
DAFTAR PUSTAKA
Istichomaharani, Ilmaa Surya., dan Habibah, Sandra Sausan. 2016. Mewujudkan Peran Mahasiswa sebagai “Agent of
Change, Social Control, dan Iron Stock”. Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Satya
Widya: Surabaya.
Papilaya, Jeanete Ophilia., dan Huliselan, Neleke. 2016. Identifikasi Gaya Belajar Mahasiswa.
Universitas Pattimura: Ambon.
Parrilo, N Vincent. 2002. Contemporary
Social Problem. Allyn & Bacon.
Sushanti, Ayu. 2012. Apa Tugas dan
Peran Mahasiswa?. Available at: http://sivitasakademika.wordpress.com/2015/04/19/apa-tugas-dan-peranmahasiswa/.
[Accessed 12 Maret 2018]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar