Rabu, 14 Maret 2018

PERAN MAHASISWA DALAM PERMASALAHAN SOSIAL DI TK DHARMA WANITA II KARANGBESUKI KOTA MALANG


MAKALAH
KEWARGANEGARAAN

PERAN MAHASISWA DALAM PERMASALAHAN SOSIAL
DI TK DHARMA WANITA II KARANGBESUKI KOTA MALANG

Oleh:
Andreas Lucky Effendi        611410001
Giovanni Christy H.             611410006
Pingkan Ayusa Rosadi         611410010
Sandra Dewi Tansil              611410015


BAB I
PENDAHULUAN

Akhir-akhir ini, Indonesia sedang dihadapkan pada beragam permasalahan yang terjadi dalam masyarakat. Permasalah tersebut terjadi dalam sektor sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Dengan munculnya beragam permasalahan, masyarakat tidak bisa hanya diam dan menunggu pemerintah untuk menemukan solusinya. Masyarakat diharapkan berperan aktif dan bekerjasama dengan pemerintah guna menghadapi semua permasalahan sosial yang sedang marak terjadi di sekitar kita.
Salah satu elemen penting dalam masyarakat adalah kalangan pelajar dan mahasiswa. Mahasiswa dikatakan sebagai harapan bangsa yang akan menentukan arah perkembangan bangsa di masa depan (Kahfie, 2015). Mahasiswa memiliki tanggung jawab yang besar dalam menghadapi permasalah yang ada di masyarakat melalui ide-ide, gagasan pemikiran, kreatifitas yang baru dan inovatif. Menteri Dalam Negeri menekankan bahwa mahasiswa adalah agen perubahan (Berita Kemendagri, 2017). Sebagai agen perubahan, mahasiswa diharapkan bisa berperan aktif dengan menganalisa persoalan sosial yang terjadi dan menemukan solusi yang bisa diwujudkan dalam tindakan nyata dalam masyarakat.
Kahfie (2015) menjabarkan Lima Tipelogi Mahasiswa, yakni: Apatis, Hedonis, Pragmatis, Oportunis, dan Kritis. Mahasiswa apatis merupakan tipe mahasiswa yang masa bodoh terhadap keadaan masyarakat di sekelilingnya. Mahasiswa hedonis adalah mahasiswa yang mementingkan gaya dan trend yang sedang naik daun dalam kehidupan sehari-harinya. Ketiga, mahasiswa pragmatis merupakan mahasiswa yang telah memiliki pemikiran yang maju tentang keadaan yang terjadi. Namun dalam implementasinya mahasiswa pragmatis hanya mementingkan kepentingan pribadi di atas segalanya. Mahasiswa oportunis adalah mahasiswa yang cukup cerdas dalam hal akademik dan hanya menghabiskan waktu untuk belajar agar memperoleh nilai yang tinggi. Mahasiswa golongan ini tidak memiliki ketertarikan terhadap permasalahan sosial yang terjadi di sekelilingnya. Golongan terakhir adalah mahasiswa kritis yang berperan aktif menganalisa dan menjawab masalah-masalah yang ada di sekitarnya.
Dari uraian tipelogi mahasiswa di atas, diharapkan para mahasiswa memiliki pemikiran yang kritis sesuai dengan kategori mahasiswa tipelogi kritis. Hal ini dikarenakan negara ini membutuhkan para kaum muda untuk membantu dalam menjawab persoalan-persoalan sosial yang sedang terjadi dimulai dari permasalahan kecil khususnya di komunitas dimana menjadi obyek pengamatan sebagai analisa sosial.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Mahasiswa merupakan seorang pelajar yang telah mencapai tingkat lebih tinggi, yaitu menjadi seseorang yang sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi. Mahasiswa dapat didefinisikan sebagai individu yang memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi, kecerdasan dalam berpikir dan kerencanaan dalam bertindak, dan sedang menuntut ilmu ditingkat perguruan tinggi. Umumnya mahasiswa berada pada tahapan remaja akhir, yaitu berusia 18–21 tahun. Mahasiswa diketahui secara luas oleh masyarakat umum memiliki potensi dalam memahami perubahan dan perkembangan di dunia pendidikan dan lingkungan masyarakat yang memiliki posisi dan peran sebagai agent of change, social controller, dan the future leader. Mahasiswa memiliki peran penting terhadap perkembangan sosial disuatu negara. Hal ini didasarkan bahwa mahasiswa merupakan calon masyarakat yang akan langsung terjun pada lapangan nyata masyarakat dan sebagai sumber daya manusia (SDM) yang harus mampu untuk menempatkan dirinya sesuai kondisi fisik dan psikologisnya.
Masalah-masalah sosial yang saat ini tengah dihadapi oleh seluruh mahasiswa memiliki persamaan rata-rata. Berbagai masalah yang telah diketahui oleh umum yaitu:
1.      Kekhawatiran memperoleh nilai yang rendah dalam ujian ataupun tugas-tugas.
2.      Kelemahan memahami bakat dan pekerjaan yang akan dimasuki.
3.      Rendah diri atau kurang percaya diri.
4.      Ceroboh atau kurang hati-hati.
5.      Kurang mampu berhemat atau kemampuan keuangan yang tidak mencukupi,baik untuk keperluan sehari-hari atau keperluan pelajaran.
6.      Kurangnya kemampuan melaksanakan tuntutan keagamaan dan atau khawatir tidak mampu menghindari larangan yang ditentukan oleh agama.
Salah satu contoh kasus yang sering terjadi pada era ini adalah tidak adanya pemahaman mahasiswa akan bakat dan pekerjaan apa yang akan dimasuki kelak. Rata-rata mahasiswa hanya meraba-raba apa yang akan mereka kerjakan di masa depan tanpa tahu bakat yang sudah mereka miliki. Sudah banyak contoh kasus yang telah dialami oleh beberapa masyarakat dimana saat menjadi mahasiswa, mereka tidak memikirkan secara matang dan sebagian lagi karena faktor dari keluarga. Hal seperti ini akan menyebabkan hilangnya arah pandang terhadap mahasiswa tersebut jika keahlian yang dimiliki tidak sesuai dengan minat yang dipilih.
Di salah satu Universitas Negeri di Kota Bandung, pernah diadakan sebuah acara dimana para mahasiswa diminta mengikuti tes dengan tujuan untuk mengetahui letak kekuatan bakat masing-masing mahasiswa agar mereka memilih bidang keprofesian yang sesuai dengan bakat mereka. Pada kesempatan tersebut para mahasiswa mengikuti dua sesi tes. Sesi yang pertama adalah tes yang bertujuan untuk mengarahkan bakat tiap individu. Dari hasil tes ini, seseorang akan mengetahui bagaimana bakat yang dimiliki berelevan dengan bidang pekerjaan yang sesuai dengan dirinya. Pada dasarnya, berkecimpung di dunia yang memang relevan dengan karakteristik individu akan membuat pekerjaan yang dikerjakan lebih produktif disamping santai karena sesuai dengan minatnya. Selanjutnya, sesi tes kedua merupakan tes yang bertujuan untuk menentukan fungsi peran seorang individu. Tes ini akan menguraikan secara rinci dimana bakat beserta minat seseorang. Lebih lanjut, tes ini menjelaskan bagaimana dominansi bagian-bagian otak tiap individu. Dominansi inilah yang menentukan kekuatan seseorang dalam bidang tertentu, apakah lebih dominan di bidang kepemimpinan, pelayanan, pengajaran, penelitian, dan lain-lain.
Cara-cara seperti itu dapat membuat mahasiswa dapat lebih mendapat tujuan untuk masa depannya karena dengan ditelusurinya potensi setiap individu maka  Mahasiswa dapat menjalani dan mengembangkan potensi yang mereka miliki. Hal ini tidak hanya mendapat keuntungan secara individu, tetapi dapat menjadi untung bagi seluruh masyarakat dan negara karena kembali lagi pada  pengertian dasar pada mahasiswa itu sendiri yang mana mahasiswa memiliki peran penting terhadap perkembangan sosial disuatu negara.



BAB III
ANALISIS KRITIS

Kegiatan belajar mengajar dilakukan setiap hari mulai hari Senin sampai Jumat. Setiap kelas terdiri dari sekitar 15 siswa. Siswa masuk pada pagi hari mulai jam 7, dan pembelajaran berakhir pada pukul 10 pagi. Untuk guru biasanya pulang sekitar jam 12 sampai jam 1.  Setiap hari Kamis pada minggu pertama dilakukan pembelajaran tentang hewan di luar kelas. Pada minggu kedua hari Kamis dilakukan kegiatan MCd Club, yang terdiri dari mewarna, manggambar, dan fashion. Pada minggu ketiga dilakukan kegiatan makan bersama. Pada kegiatan ini makanan disediakan oleh para wali murid. Untuk bekal setiap harinya yang dibawa pun ditentukan jadwalnya untuk menghindari jajanan tidak sehat seperti keripik. Untuk hari Senin roti atau kue basah, hari Selasa aneka buah, hari Rabu macam-macam sayur dan sedikit nasi, hari Kamis wafer atau kue kering dan susu yang dibuat sendiri oleh sekolah, dan hari Jumat telur rebus atau goreng, atau orak arik.
Murid-murid yang sekolah di TK Dharma Wanita II kebanyakan berdomisili di daerah sekitar sekolah, paling jauh di daerah Universitas Negeri Malang. Untuk siswa yang rumahnya jauh, biasanya dijemput orang tuanya, sedangkan yang rumahnya dekat biasanya jalan sendiri dengan dibariskan satu per satu. Untuk pengumuman dan pemberitahuan ijin sakit dapat dilakukan di apilaksi Whats App melalui grup yang berisikan guru dan wali murid.
Sebelum memulai pelajaran di pagi hari, siswa masuk kelas  dengan berbaris satu-persatu, kemudian doa bersama, beri salam, dan membaca Pancasila. Pada pukul 08.30 siswa akan istirahat dan masuk lagi pukul 08.45 untuk makan bersama. Setelah itu, pada pukul 09.10 akan ada pelajaran mengaji bagi yang beragama Islam. Untuk selain agama Islam akan belajar agama dengan Kepala Sekolah. Aktivitas pengajaran pun tidak hanya di dalam ruang kelas, ada juga kegiatan bermain di luar ruang kelas. Sekolah dibagi menjadi dua tingkat, yaitu A dan B. Untuk kelas B akan ada tambahan kelas untuk persiapan ke SD.
Selain proses belajar mengajar, banyak juga kegiatan di dalam sekolah yang dilakukan, antara lain Puncak Tema, Garasi Sale, dan kegiatan yang masih direncanakan yaitu Kendaraan dan Rekreasi. Untuk Puncak Tema merupakan kegiatan dimana siswa masing-masing akan membawa hewan peliharaannya ke sekolah selama satu hari satu malam. Dalam kegiatan Garasi Sale para wali murid akan menyumbang barang yang nantinya akan dijual. Uang hasil penjualan ini nantinya akan digunakan untuk pembangunan sekolah. Sedangkan yang terakhir Kendaraan dan Rekreasi rencananya para siswa, guru, dan wali murid akan mengunjungi Surabaya Karnival bersama. Dulunya ada ekstrakurikuler di sekolah, namun karena keterbatasan waktu yang dimiliki masing-masing guru yang mengajar maka kini sudah tidak ada lagi. Untuk kegiatan di ke masyarakat belum ada, namun jika masyarakat setempat mengadakan kegiatan, maka sekolah pun akan ikut berpartisipasi.
Masalah sosial adalah suatu kondisi yang tidak diharapakan timbul dalam masyarakat, karena mengganggu ketentraman masyarakat, kemudian diperlukan juga adanya tindakan dari hasil kesepakatan bersama untuk mengatasi atau memperbaikinya (Alihdaman, 2017). Menurut Soerjono Soekanto faktor penyebab masalah sosial dibedakan menjadi 4, yaitu faktor ekonomi, biologis, psikologis, dan kebudayaan. Faktor ekonomi seperti pengangguran dan kemiskinan dapat menyebabkan terjadinya tindakan kriminalitas seperti perampokan. Faktor biologis bisa terjadi karena kurangnya fasilitas kesehatan atau berkaitan dengan faktor ekonomi yang dapat menyebabkan wabah penyakit dan kurang gizi. Pada faktor psikologis, pengaruh beban hidup yang dirasakan dan emosi dapat menyebabkan konflik dalam masyarakat yang memicu terjadinya masalah sosial. Faktor kebudayaan yang dimaksud di sini adalah perkembangan budaya yang dapat memicu timbulnya permasalahan sosial seperti perceraian, kenakalan remaja, pernikahan dini, dan lain-lain.
Berdasarkan paparan di atas, hasil dari pengamatan mahasiswa pada TK Dharma Wanita II Karangbesuki tidak menunjukkan masalah sosial. Untuk dana kegiatan yang dilakukan, komunitas menggalang sendiri dana yang dibutuhkan untuk pembangunan dengan dengan kegiatan Garasi Sale. Hal ini menunjukkan tidaka adanya masalah sosial dari faktor ekonomi. Masalah sosial pada faktor biologis ditutup dengan adanya ketentuan untuk membawa bekal sendiri yang terdiri dari barbagai macam makanan sehat beragam setiap harinya. Pada faktor psikologis dan faktor kebudayaan, dari hasil pengamatan tidak ada masalah baik dari para siswa maupun para guru.



BAB IV
REFLEKSI

Mahasiswa sebagai agent of change merupakan sebuah definisi peran yang tepat bila mahasiswa berperan aktif dalam melakukan perubahan dan pengembangan terhadap berbagai permasalahan yang ada di suatu negara khususnya di Negara Indonesia. Salah satu masalah yang tidak akan pernah ada habisnya adalah permasalahan sosial. Sosial merupakan segala sesuatu yang lahir, tumbuh, dan berkembang dalam kehidupan bersama dimana kita sebagai manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa orang lain untuk membantu kita. Permasalahan sosial timbul adanya ketidaksesuaian pelaksanaan nilai, norma, serta berbagai kepentingan-kepentingan sosial yang bersifat individu dan memaksa. Oleh karena itu sebagai mahasiswa dimana memiliki title agent of change harus memiliki sikap kritis terhadap segala sesuatu khususnya dalam mengamati permasalahan sosial yang ada di lingkungan yang ada di sekitarnya. Tidak perlu berlebihan dengan memikirkan suatu permasalahan besar dimana pemerintah pun belum menemukan solusinya, namun bisa dimulai dari hal kecil bersama dengan komunitas. Melakukan analisa sosial dengan mengamati permasalahan-permasalahan sosial yang ada dalam komunitas tersebut, dimana kali ini adalah TK Dharma Wanita II Karangbesuki di Kota Malang.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan bersama kelompok, belum adanya permasalahan sosial yang sangat menimbulkan dampak negatif di komunitas kami. Pelajaran yang mahasiswa dapatkan dari pengamatan di komunitas adalah kami sebagai mahasiswa memiliki peran dalam memberikan contoh kepada adik-adik di PAUD dalam kesopan-santunan dalam berbicara, bertegur sapa, sopan saat memanggil yang lebih tua, khususnya kepada para ibu-ibu guru yang mengajar dimana dengan tujuan para adik-adik siswa-siswi PAUD bisa mengerti dan memahami arti kesopan-santunan. Selain itu dalam berproses belajar kami sebagai mahasiswa melihat bahwa permasalahan sosial di komunitas sudah diminimalisir secara mandiri oleh komunitas salah satunya adalah pemberian jadwal bekal yang sehat dan bergizi setiap harinya sehingga tidak terjadi masalah sosial kurang gizi bagi siswa-siswi. Dari hal tersebut kami belajar bahwa diperlukan ide, kreatifitas, inovasi, kemandirian dalam suatu organisasi/komunitas untuk mengurangi masalah-masalah sosial bahkan dari hal kecil yang dimulai dari makanan dan minuman.
Setiap harinya siswa-siswi diajarkan untuk taat beribadah sesuai agama masing-masing. Hal tersebut ditekankan untuk menghindari perpecahan sosial sejak dini, mahasiswa berperan dalam memberikan kata-kata positif tanpa menyudutkan dengan harapan siswa-siswi tetap akur dan bertindak dengan jujur, tidak nakal, dan bisa fokus dalam belajar dan bermain sehingga mendapatkan pengetahuan baru setiap harinya. Kami sebagai mahasiswa juga belajar dari para siswa-siswi mengenai kepolosan dalam arti kejujuran yang dimiliki oleh para murid, kemauan untuk memberi dan menolong saat dibutuhkan, belajar cara mendidik dan mengajar siswa-siswi PAUD yang tingkahnya beraneka ragam dengan benar tanpa kekerasan baik secara fisik maupun mental.
Nilai eksak saat mahasiswa menempuh pendidikan di suatu universitas bukanlah segalanya, namun tingkah laku, perbuatan, kepercayaan diri, kesenangan dalam melakukan kegiatan dan pekerjaan yang menentukan apakah mahasiswa memiliki peran atau tidak sebagai sumber daya manusia yang bermutu yang dapat menjadi agen perubahan, pemimpin, dan perkembangan sosial.    


BAB V
KESIMPULAN

Mahasiswa merupakan salah satu pilar pendukung dalam menemukan solusi guna meminimalisir permasalahan sosial yang terjadi dalam lingkungan sosial. Dengan berperan aktif menganalisa persoalan sosial yang terjadi sesuai target sasaran, menjauhkan diri dari sikap apatis yang merupakan sikap acuh tak acuh terhadap kondisi masalah sosial yang ada disekitarnya maka akan ditemukan solusi yang bisa diwujudkan dalam tindakan nyata dalam masyarakat. Maka dari itu sebagai mahasiswa dituntut untuk berpikir kritis, memiliki kepercayaan diri yang bagus, tidak hanya mengejar nilai eksak namun juga peduli terhadap lingkungan sosial disekitarnya dengan menemukan ide-ide baru yang kreatif dan inovatif yang bisa menjadi solusi dalam menjawab dari permasalahan sosial yang kecil seperti menanggapi perbedaan hingga permasalahan sosial yang menyangkut hajat hidup orang banyak seperti masalah ekonomi dan pengangguran sehingga harapan kedepannya mahasiswa bisa menjadi lulusan yang bermutu dan berkompeten serta produktif dalam berkehidupan sosial.


DAFTAR PUSTAKA

Alihamdan. 2018. Jenis-Jenis Masalah Sosial (Faktor Penyebab, Ciri-Ciri, Dampak, dan Contohnya). [ONLINE]. Available at: https://alihamdan.id/masalah-sosial/ (diakses 12 Maret 2018).

Berita Kemendagri. 2017. Mahasiswa adalah Agen Perubahan. [ONLINE]. Available at:  http://www.kemendagri.go.id/news/2017/09/08/mahasiswa-adalah-agen-perubahan-bangsa (diakses 12 Maret 2018).

Christianto 2010. Terkait Penjurusan, Sekolah Farmasi ITB Adakan Tes Pemetaan Bakat Bagi Mahasiswa TPB [ONLINE]. Available at: https://www.itb.ac.id/news/2807.xhtml (diakses 12 Maret 2018).

Kahfie, S. 2015. Peran Mahasiswa dalam Menghadapi Persoalan Sosial. [ONLINE]. Available at: https://www.kompasiana.com/www.kompasiana.comsahibulkahfi/peran-mahasiswa-dalam-menyikapi-persoalan-sosial_5535adc76ea8342b1fda42d5 (diakses 12 Maret 2018).





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel Demokrasi

  Demokrasi di Indonesia yang Diterapkan di SDK Indriyasana Sukun oleh : Arum Ardanareswari (611610002) Dimas Ade Setyawan (611610005...