MAKALAH
KEWARGANEGARAAN
PERAN MAHASISWA DALAM PERMASALAHAN SOSIAL
DI TK DHARMA WANITA II KARANGBESUKI KOTA MALANG
Oleh:
Andreas Lucky Effendi 611410001
Giovanni Christy H. 611410006
Pingkan Ayusa Rosadi 611410010
Sandra Dewi Tansil 611410015
BAB
I
PENDAHULUAN
Akhir-akhir
ini, Indonesia sedang dihadapkan pada beragam permasalahan yang terjadi dalam
masyarakat. Permasalah tersebut terjadi dalam sektor sosial, ekonomi, politik,
dan budaya. Dengan munculnya beragam permasalahan, masyarakat tidak bisa hanya
diam dan menunggu pemerintah untuk menemukan solusinya. Masyarakat diharapkan
berperan aktif dan bekerjasama dengan pemerintah guna menghadapi semua
permasalahan sosial yang sedang marak terjadi di sekitar kita.
Salah satu elemen
penting dalam masyarakat adalah kalangan pelajar dan mahasiswa. Mahasiswa
dikatakan sebagai harapan bangsa yang akan menentukan arah perkembangan bangsa
di masa depan (Kahfie, 2015). Mahasiswa memiliki tanggung jawab yang besar
dalam menghadapi permasalah yang ada di masyarakat melalui ide-ide, gagasan pemikiran, kreatifitas yang
baru dan inovatif. Menteri Dalam Negeri menekankan
bahwa mahasiswa adalah agen perubahan (Berita Kemendagri, 2017). Sebagai agen
perubahan, mahasiswa diharapkan bisa berperan aktif dengan menganalisa
persoalan sosial yang terjadi dan menemukan solusi yang bisa diwujudkan dalam
tindakan nyata dalam masyarakat.
Kahfie (2015)
menjabarkan Lima Tipelogi Mahasiswa, yakni: Apatis, Hedonis, Pragmatis,
Oportunis, dan Kritis. Mahasiswa apatis merupakan tipe mahasiswa yang masa
bodoh terhadap keadaan masyarakat di sekelilingnya. Mahasiswa hedonis adalah
mahasiswa yang mementingkan gaya dan trend yang sedang naik daun dalam
kehidupan sehari-harinya. Ketiga, mahasiswa pragmatis merupakan mahasiswa yang
telah memiliki pemikiran yang maju tentang keadaan yang terjadi. Namun dalam
implementasinya mahasiswa pragmatis hanya mementingkan kepentingan pribadi di
atas segalanya. Mahasiswa oportunis adalah mahasiswa yang cukup cerdas dalam
hal akademik dan hanya menghabiskan waktu untuk belajar agar memperoleh nilai
yang tinggi. Mahasiswa golongan ini tidak memiliki ketertarikan terhadap
permasalahan sosial yang terjadi di sekelilingnya. Golongan terakhir adalah
mahasiswa kritis yang berperan aktif menganalisa dan menjawab masalah-masalah
yang ada di sekitarnya.
Dari uraian
tipelogi mahasiswa di atas, diharapkan para mahasiswa memiliki pemikiran yang kritis sesuai dengan kategori
mahasiswa tipelogi kritis. Hal ini dikarenakan
negara ini membutuhkan para kaum muda untuk membantu dalam menjawab
persoalan-persoalan sosial yang sedang terjadi dimulai dari permasalahan kecil khususnya di komunitas dimana menjadi
obyek pengamatan sebagai analisa sosial.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Mahasiswa merupakan seorang pelajar yang
telah mencapai tingkat lebih tinggi, yaitu menjadi seseorang
yang sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi. Mahasiswa
dapat didefinisikan sebagai individu yang memiliki tingkat intelektualitas yang
tinggi, kecerdasan dalam berpikir
dan kerencanaan dalam bertindak,
dan sedang menuntut ilmu ditingkat perguruan tinggi. Umumnya mahasiswa berada
pada tahapan remaja akhir, yaitu berusia 18–21 tahun. Mahasiswa diketahui
secara luas oleh masyarakat umum memiliki potensi dalam memahami perubahan dan
perkembangan di dunia pendidikan dan lingkungan masyarakat yang memiliki posisi
dan peran sebagai agent of change, social
controller, dan the future leader.
Mahasiswa memiliki peran penting terhadap perkembangan sosial disuatu negara. Hal ini didasarkan
bahwa mahasiswa merupakan calon
masyarakat yang akan langsung terjun pada lapangan nyata masyarakat dan sebagai
sumber daya manusia (SDM) yang harus mampu untuk menempatkan dirinya sesuai
kondisi fisik dan psikologisnya.
Masalah-masalah
sosial yang saat ini tengah
dihadapi oleh seluruh mahasiswa
memiliki persamaan rata-rata. Berbagai masalah yang telah diketahui oleh umum
yaitu:
1. Kekhawatiran memperoleh
nilai yang rendah dalam ujian ataupun tugas-tugas.
2. Kelemahan memahami bakat
dan pekerjaan yang akan dimasuki.
3. Rendah diri atau kurang
percaya diri.
4. Ceroboh atau kurang
hati-hati.
5. Kurang mampu berhemat atau
kemampuan keuangan yang tidak mencukupi,baik untuk keperluan sehari-hari atau
keperluan pelajaran.
6. Kurangnya kemampuan
melaksanakan tuntutan keagamaan dan atau khawatir tidak mampu menghindari
larangan yang ditentukan oleh agama.
Salah
satu contoh kasus yang sering terjadi pada era ini adalah tidak adanya
pemahaman mahasiswa akan bakat dan pekerjaan apa yang akan dimasuki kelak.
Rata-rata mahasiswa
hanya meraba-raba apa yang akan mereka kerjakan di masa depan tanpa tahu bakat
yang sudah mereka miliki. Sudah banyak contoh kasus yang telah dialami oleh
beberapa masyarakat dimana saat menjadi mahasiswa,
mereka tidak memikirkan secara matang dan sebagian lagi karena faktor dari keluarga. Hal
seperti ini akan menyebabkan hilangnya arah pandang terhadap mahasiswa tersebut jika
keahlian yang dimiliki tidak sesuai dengan minat yang dipilih.
Di salah satu Universitas Negeri di Kota Bandung, pernah
diadakan sebuah acara dimana para mahasiswa
diminta mengikuti tes dengan tujuan
untuk mengetahui letak kekuatan bakat masing-masing mahasiswa agar mereka memilih bidang keprofesian yang
sesuai dengan bakat mereka. Pada kesempatan tersebut para mahasiswa mengikuti dua sesi tes. Sesi yang pertama adalah
tes yang bertujuan untuk mengarahkan bakat tiap individu. Dari hasil tes ini,
seseorang akan mengetahui bagaimana bakat yang dimiliki berelevan dengan bidang
pekerjaan yang sesuai dengan dirinya. Pada dasarnya, berkecimpung di dunia yang
memang relevan dengan karakteristik individu akan membuat pekerjaan yang
dikerjakan lebih produktif disamping santai karena sesuai dengan minatnya.
Selanjutnya, sesi tes kedua merupakan tes yang bertujuan untuk menentukan
fungsi peran seorang individu. Tes ini akan menguraikan secara rinci dimana
bakat beserta minat seseorang. Lebih lanjut, tes ini menjelaskan bagaimana
dominansi bagian-bagian otak tiap individu. Dominansi inilah yang menentukan
kekuatan seseorang dalam bidang tertentu, apakah lebih dominan di bidang
kepemimpinan, pelayanan, pengajaran, penelitian, dan lain-lain.
Cara-cara seperti itu dapat membuat mahasiswa dapat lebih mendapat tujuan untuk masa depannya
karena dengan ditelusurinya potensi setiap individu maka Mahasiswa dapat menjalani dan mengembangkan
potensi yang mereka miliki. Hal ini tidak hanya mendapat keuntungan secara
individu, tetapi dapat menjadi untung bagi seluruh masyarakat dan negara karena kembali lagi pada pengertian dasar pada mahasiswa itu sendiri yang mana mahasiswa memiliki peran penting
terhadap perkembangan sosial disuatu negara.
BAB III
ANALISIS KRITIS
Kegiatan
belajar mengajar dilakukan setiap hari mulai hari Senin sampai Jumat. Setiap
kelas terdiri dari sekitar 15 siswa. Siswa masuk pada pagi hari mulai jam 7,
dan pembelajaran berakhir pada pukul 10 pagi. Untuk guru biasanya pulang
sekitar jam 12 sampai jam 1. Setiap hari
Kamis pada minggu pertama dilakukan pembelajaran tentang hewan di luar kelas.
Pada minggu kedua hari Kamis dilakukan kegiatan MCd Club, yang terdiri dari
mewarna, manggambar, dan fashion.
Pada minggu ketiga dilakukan kegiatan makan bersama. Pada kegiatan ini makanan
disediakan oleh para wali murid. Untuk bekal setiap harinya yang dibawa pun
ditentukan jadwalnya untuk menghindari jajanan tidak sehat seperti keripik.
Untuk hari Senin roti atau kue basah, hari Selasa aneka buah, hari Rabu macam-macam
sayur dan sedikit nasi, hari Kamis wafer atau kue kering dan susu yang dibuat
sendiri oleh sekolah, dan hari Jumat telur rebus atau goreng, atau orak arik.
Murid-murid
yang sekolah di TK Dharma Wanita II kebanyakan berdomisili di daerah sekitar
sekolah, paling jauh di daerah Universitas Negeri Malang. Untuk siswa yang
rumahnya jauh, biasanya dijemput orang tuanya, sedangkan yang rumahnya dekat
biasanya jalan sendiri dengan dibariskan satu per satu. Untuk pengumuman dan
pemberitahuan ijin sakit dapat dilakukan di apilaksi Whats App melalui grup yang berisikan guru dan wali murid.
Sebelum
memulai pelajaran di pagi hari, siswa masuk kelas dengan berbaris satu-persatu, kemudian doa
bersama, beri salam, dan membaca Pancasila. Pada pukul 08.30 siswa akan
istirahat dan masuk lagi pukul 08.45 untuk makan bersama. Setelah itu, pada
pukul 09.10 akan ada pelajaran mengaji bagi yang beragama Islam. Untuk selain
agama Islam akan belajar agama dengan Kepala Sekolah. Aktivitas pengajaran pun
tidak hanya di dalam ruang kelas, ada juga kegiatan bermain di luar ruang
kelas. Sekolah dibagi menjadi dua tingkat, yaitu A dan B. Untuk kelas B akan
ada tambahan kelas untuk persiapan ke SD.
Selain
proses belajar mengajar, banyak juga kegiatan di dalam sekolah yang dilakukan,
antara lain Puncak Tema, Garasi Sale, dan kegiatan yang masih direncanakan
yaitu Kendaraan dan Rekreasi. Untuk Puncak Tema merupakan kegiatan dimana siswa
masing-masing akan membawa hewan peliharaannya ke sekolah selama satu hari satu
malam. Dalam kegiatan Garasi Sale para wali murid akan menyumbang barang yang
nantinya akan dijual. Uang hasil penjualan ini nantinya akan digunakan untuk
pembangunan sekolah. Sedangkan yang terakhir Kendaraan dan Rekreasi rencananya
para siswa, guru, dan wali murid akan mengunjungi Surabaya Karnival bersama.
Dulunya ada ekstrakurikuler di sekolah, namun karena keterbatasan waktu yang
dimiliki masing-masing guru yang mengajar maka kini sudah tidak ada lagi. Untuk
kegiatan di ke masyarakat belum ada, namun jika masyarakat setempat mengadakan
kegiatan, maka sekolah pun akan ikut berpartisipasi.
Masalah
sosial adalah suatu kondisi yang tidak diharapakan timbul dalam masyarakat,
karena mengganggu ketentraman masyarakat, kemudian diperlukan juga adanya
tindakan dari hasil kesepakatan bersama untuk mengatasi atau memperbaikinya
(Alihdaman, 2017). Menurut Soerjono Soekanto faktor penyebab masalah sosial
dibedakan menjadi 4, yaitu faktor ekonomi, biologis, psikologis, dan kebudayaan.
Faktor ekonomi seperti pengangguran dan kemiskinan dapat menyebabkan terjadinya
tindakan kriminalitas seperti perampokan. Faktor biologis bisa terjadi karena
kurangnya fasilitas kesehatan atau berkaitan dengan faktor ekonomi yang dapat
menyebabkan wabah penyakit dan kurang gizi. Pada faktor psikologis, pengaruh
beban hidup yang dirasakan dan emosi dapat menyebabkan konflik dalam masyarakat
yang memicu terjadinya masalah sosial. Faktor kebudayaan yang dimaksud di sini
adalah perkembangan budaya yang dapat memicu timbulnya permasalahan sosial
seperti perceraian, kenakalan remaja, pernikahan dini, dan lain-lain.
Berdasarkan
paparan di atas, hasil dari pengamatan mahasiswa pada TK Dharma Wanita II
Karangbesuki tidak menunjukkan masalah sosial. Untuk dana kegiatan yang
dilakukan, komunitas menggalang sendiri dana yang dibutuhkan untuk pembangunan
dengan dengan kegiatan Garasi Sale. Hal ini menunjukkan tidaka adanya masalah
sosial dari faktor ekonomi. Masalah sosial pada faktor biologis ditutup dengan
adanya ketentuan untuk membawa bekal sendiri yang terdiri dari barbagai macam
makanan sehat beragam setiap harinya. Pada faktor psikologis dan faktor
kebudayaan, dari hasil pengamatan tidak ada masalah baik dari para siswa maupun
para guru.
BAB IV
REFLEKSI
Mahasiswa
sebagai agent of change merupakan
sebuah definisi peran yang tepat bila mahasiswa berperan aktif dalam melakukan
perubahan dan pengembangan terhadap berbagai permasalahan yang ada di suatu
negara khususnya di Negara Indonesia. Salah satu masalah yang tidak akan pernah
ada habisnya adalah permasalahan sosial. Sosial merupakan segala sesuatu yang
lahir, tumbuh, dan berkembang dalam kehidupan bersama dimana kita sebagai
manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa orang lain untuk
membantu kita. Permasalahan sosial timbul adanya ketidaksesuaian pelaksanaan
nilai, norma, serta berbagai kepentingan-kepentingan sosial yang bersifat
individu dan memaksa. Oleh karena itu sebagai mahasiswa dimana memiliki title agent of change harus memiliki sikap
kritis terhadap segala sesuatu khususnya dalam mengamati permasalahan sosial
yang ada di lingkungan yang ada di sekitarnya. Tidak perlu berlebihan dengan
memikirkan suatu permasalahan besar dimana pemerintah pun belum menemukan
solusinya, namun bisa dimulai dari hal kecil bersama dengan komunitas.
Melakukan analisa sosial dengan mengamati permasalahan-permasalahan sosial yang
ada dalam komunitas tersebut, dimana kali ini adalah TK Dharma Wanita II
Karangbesuki di Kota Malang.
Berdasarkan
pengamatan yang dilakukan bersama kelompok, belum adanya permasalahan sosial
yang sangat menimbulkan dampak negatif di komunitas kami. Pelajaran yang
mahasiswa dapatkan dari pengamatan di komunitas adalah kami sebagai mahasiswa
memiliki peran dalam memberikan contoh kepada adik-adik di PAUD dalam
kesopan-santunan dalam berbicara, bertegur sapa, sopan saat memanggil yang
lebih tua, khususnya kepada para ibu-ibu guru yang mengajar dimana dengan
tujuan para adik-adik siswa-siswi PAUD bisa mengerti dan memahami arti
kesopan-santunan. Selain itu dalam berproses belajar kami sebagai mahasiswa
melihat bahwa permasalahan sosial di komunitas sudah diminimalisir secara
mandiri oleh komunitas salah satunya adalah pemberian jadwal bekal yang sehat
dan bergizi setiap harinya sehingga tidak terjadi masalah sosial kurang gizi
bagi siswa-siswi. Dari hal tersebut kami belajar bahwa diperlukan ide,
kreatifitas, inovasi, kemandirian dalam suatu organisasi/komunitas untuk
mengurangi masalah-masalah sosial bahkan dari hal kecil yang dimulai dari
makanan dan minuman.
Setiap
harinya siswa-siswi diajarkan untuk taat beribadah sesuai agama masing-masing.
Hal tersebut ditekankan untuk menghindari perpecahan sosial sejak dini,
mahasiswa berperan dalam memberikan kata-kata positif tanpa menyudutkan dengan
harapan siswa-siswi tetap akur dan bertindak dengan jujur, tidak nakal, dan
bisa fokus dalam belajar dan bermain sehingga mendapatkan pengetahuan baru
setiap harinya. Kami sebagai mahasiswa juga belajar dari para siswa-siswi
mengenai kepolosan dalam arti kejujuran yang dimiliki oleh para murid, kemauan
untuk memberi dan menolong saat dibutuhkan, belajar cara mendidik dan mengajar
siswa-siswi PAUD yang tingkahnya beraneka ragam dengan benar tanpa kekerasan
baik secara fisik maupun mental.
Nilai eksak
saat mahasiswa menempuh pendidikan di suatu universitas bukanlah segalanya,
namun tingkah laku, perbuatan, kepercayaan diri, kesenangan dalam melakukan
kegiatan dan pekerjaan yang menentukan apakah mahasiswa memiliki peran atau tidak
sebagai sumber daya manusia yang bermutu yang dapat menjadi agen perubahan,
pemimpin, dan perkembangan sosial.
BAB V
KESIMPULAN
Mahasiswa
merupakan salah satu pilar pendukung dalam menemukan solusi guna meminimalisir
permasalahan sosial yang terjadi dalam lingkungan sosial. Dengan berperan
aktif menganalisa persoalan sosial yang terjadi sesuai target sasaran, menjauhkan diri dari sikap apatis yang merupakan
sikap acuh tak acuh terhadap kondisi masalah sosial yang ada disekitarnya maka
akan ditemukan solusi yang bisa diwujudkan dalam
tindakan nyata dalam masyarakat. Maka dari itu
sebagai mahasiswa dituntut untuk berpikir kritis, memiliki kepercayaan diri
yang bagus, tidak hanya mengejar nilai eksak namun juga peduli terhadap
lingkungan sosial disekitarnya dengan menemukan ide-ide baru yang kreatif dan
inovatif yang bisa menjadi solusi dalam menjawab dari permasalahan sosial yang
kecil seperti menanggapi perbedaan hingga permasalahan sosial yang menyangkut
hajat hidup orang banyak seperti masalah ekonomi dan pengangguran sehingga
harapan kedepannya mahasiswa bisa menjadi lulusan yang bermutu dan berkompeten
serta produktif dalam berkehidupan sosial.
DAFTAR PUSTAKA
Alihamdan. 2018. Jenis-Jenis
Masalah Sosial (Faktor Penyebab, Ciri-Ciri, Dampak, dan Contohnya). [ONLINE].
Available at: https://alihamdan.id/masalah-sosial/ (diakses 12 Maret
2018).
Berita Kemendagri. 2017. Mahasiswa adalah
Agen Perubahan. [ONLINE]. Available at: http://www.kemendagri.go.id/news/2017/09/08/mahasiswa-adalah-agen-perubahan-bangsa
(diakses 12 Maret 2018).
Christianto 2010. Terkait
Penjurusan, Sekolah Farmasi ITB Adakan Tes Pemetaan Bakat Bagi Mahasiswa TPB [ONLINE]. Available at: https://www.itb.ac.id/news/2807.xhtml (diakses 12 Maret 2018).
Kahfie, S. 2015. Peran Mahasiswa dalam
Menghadapi Persoalan Sosial. [ONLINE]. Available at: https://www.kompasiana.com/www.kompasiana.comsahibulkahfi/peran-mahasiswa-dalam-menyikapi-persoalan-sosial_5535adc76ea8342b1fda42d5
(diakses 12 Maret 2018).